Selasa, 26 Oktober 2010

WISATA ALAM CIWIDEY DAN SITU PATENGGANG - BANDUNG

Diposting oleh : Anas Kh,
28 Oktober 2010 


Ciwidey adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Bandung. Ciwidey merupakan salah satu tujuan wisata utama di Bandung karena kekayaan wisata alamnya seperti Wisata Petik Strawberry, Kawah Putih Gunung Patuha, Bumi Perkemahan Ranca Upas, Penangkaran Rusa Ranca Upas, Pemandian Air Panas Walini, Kolam Renang Air Panas Cimanggu, Perkebunan Teh Ranca Bali, Perkebunan Teh Gambung, Telaga atau Situ Patengan.

:: Alam persawahan yang sangat indah di Bandung Selatan ::

:: Perkebunan Strawberry, salah satu obyek wisata menarik di Bandung Selatan ::

:: Indah pemandangan di jalan utama menuju berbagai obyek wisata Ciwidey ::

:: Asrinya alam pegunungan di Bandung Selatan ::
Catatan – Di Ciwidey juga terdapat jalan menuju obyek wisata Situs Gunung Padang di Kabupaten Cianjur, yang merupakan situs megalitikum terbesar di Asia Tenggara.


Kali ini menikmati suasana alam pegunungan Bandung Selatan, yaitu Kawah Putih Gunung Patuha, tea walk (walaupun hanya nongkrong) perkebunan teh Walini, pemandian air panas Cimanggu (tapi tak sempat) dan Situ Patengan.
Perjalanan menuju objek wisata tersebut sepanjang 46km dari Kotamadya Bandung mungkin bisa dikatakan melelahkan pikiran menyaksikan kemacetan jalan Kopo sebagai satu-satunya jalan akses yang mudah dibandingkan dengan jalur lainnya serta melelahkan otot-otot kaki kiri menahan kopling bagi sang supir. Jika anda sudah melewati fly over jalan tol Padalarang-Cileunyi selepas pintu tol Kopo maka anda akan menyadari bahwa perjalanan dari lingkar selatan jalan Soekarno-Hatta hingga kota Kabupaten Bandung di Soreang adalah datar, sejauh kira-kira 10km. Bahkan jika anda melihat peta administratif Soreang adalah titik tengah dari keseluruhan kota Bandung.
Peta Kabupaten Bandung
objek pertama di Ciwidey saat jalan menanjak adalah wisata belanja stroberi. Di kiri-kanan jalan banyak kebun-kebun stroberi, anda bisa memetiknya sendiri, jika ogah rugi anda bisa memetik sambil memakannya langsung. Hehe. Kebun stroberi ini tak sempat kami singgahi karena sudah terlalu sore, dikhawatirkan terlalu gelap sampai di objek berikutnya yang masih jauh dan menanjak.
Perjalanan berikutnya sampai di gerbang Kawah Putih Gunung Patuha yang kawahnya sendiri masih sekitar 5km lagi melalui jalan sempit beraspal naik turun dan lebih banyak naiknya. Kiri kanan jalanan tersebut dipenuhi dengan tumbuhan hutan tropis, tinggi dan rapat-rapat. Saat melewati jalan tersebut kabut sedang turun dan bau belerang mulai tercium. Transmisi kendaraan harus di gigi satu, entah kenapa meskipun jalan agak datar saat dipindah ke gigi dua mesin kendaraan ngos-ngosan tidak bertenaga, mungkin akibat kurangnya udara kering karena kabut sedang turun.
Kawah Putih, Gunung Patuha
Gunung Patuha konon berasal dari nama Pak Tua –masyarakat lebih sering menyebutnya dengan Gunung Sepuh– memiliki ketinggian 2.434m dpl, dengan kisaran suhu 8-22°C. Di puncak Gunung Patuha itulah terdapat Kawah Saat –saat adalah surut dalam Bahasa Sunda– yang berada di bagian barat dan di bawahnya Kawah Putih dengan ketinggian 2.194m dpl. Kedua kawah itu terbentuk akibat letusan yang terjadi pada abad X dan XII silam.
Sebelum ditemukannya danau Kawah Putih di puncak Gunung Patuha, masyarakat menganggap puncak itu sebagai daerah yang angker, hingga tak seorang pun berani menjamahnya. Bahkan karena angkernya, burung yang melewati kawah pun akan mati. Misteri keindahan danau kawah putih baru terungkap tahun 1837, oleh seorang botanis Belanda peranakan Jerman, Dr. Franz Wilhelm Junghuhn. Namun, Junghuhn tidak memercayai cerita itu begitu saja, sambil melanjutkan perjalanan menembus hutan belantara hingga akhirnya menemukan sebuah danau kawah yang indah. Dari dalam danau itu keluar semburan lava bau belerang yang menusuk hidung. Ternyata kondisi belerang yang sangat tinggi itulah yang menyebabkan burung enggan untuk terbang di atas permukaan kawah. Dan pada tahun 1987 PT Perhutani (Persero) Unit III Jabar dan Banten mengembangkannya menjadi sebuah objek wisata.
Ada perbedaan antara Kawah Putih Gunung Patuha, jika dibandingkan dengan sejumlah kawah yang berada di wilayah Jawa Barat, danau Kawah Putih memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri. Air danau kawahnya selalu berubah-ubah warna, terkadang berwarna hijau apel dan kebiru-biruan bila terik matahari dan cuaca terang, terkadang pula berwarna coklat susu dan yang paling sering dijumpai adalah berwarna putih disertai kabut tebal di atas permukaan kawah. Selain permukaan kawah yang berwarna putih, pasir dan bebatuan di sekitarnya pun didominasi warna putih, karenanya kawah itu dinamakan Kawah Putih.
Perkebunan teh Walini Vila Kidang Kancana, Walini
Perjalanan dilanjutkan kembali melewati bumi perkemahan Ranca Upas dan perkebunan teh Walini. Di tengah perkebunan ini ada satu-dua vila dan pemandian umum. Vila di kebun teh Walini yang pernah saya singgahi sepuluh tahun lalu adalah vila Kidang Kancana, sebuah bangunan kayu dua lantai dan memiliki kolam air panas alami di depannya. Waktu semakin sore, kami hanya sempat singgah dan nongkrong di pinggiran kebun teh saja.
objek wisata selanjutnya adalah pemandian air panas alami Cimanggu, karena tak berbekal pakaian ganti kami pun hanya melewati saja objek wisata ini dan meneruskan ke objek berikutnya, yaitu Situ Patenggang.
Memang ada kerancuan nama tempat ini, ada yang menyebut Patengan, juga ada yang menyebut Patenggang. Jika menilik etimologi nama patengan berasal dari pateang-teang (saling mencari), menjadi pateangan (menunjukkan tempat pencarian) hingga akhirnya menjadi patengan. Sedangkan nama patenggang adalah artinya terpisah oleh jarak atau kondisi. Hingga kini dua nama tersebut tetap dipakai, namun jika melihat nama desa tempat danau itu berada adalah desa Patengan, kawasan Rancabali.
Situ Patengan
Barisan perahu di Situ Patengan
Kawasan ini memiliki sebuah legenda sehingga muncul nama Situ Patenggang. Sejarah atau mitos tentang situ ini muncul ke disebabkan karena seorang pangeran dan seorang putri yang saling jatuh cinta, namun perjalanan cinta mereka tidak semulus dan seindah yang dibayangkan oleh keduanya karena dipisahkan oleh keadaan. Sehingga air mata mereka membentuk sebuah situ atau danau. Selanjutnya danau itu dinamai dengan situ patenggang. Pada akhirnya mereka dapat berkumpul kembali pada sebuah batu di situ tersebut yang diberi nama Batu Cinta. Konon siapapun yang pernah berkunjung dengan pasangannya, maka cinta mereka akan abadi.
Beruntung, saat waktu sudah menunjukkan pukul 18:30 langit masih terang ketika kami menikmati Situ Patenggang yang airnya tenang kebiru-biruan, namun tak sempat menikmati situ tersebut dengan naik perahu.
Pulang kembali ke kota Bandung harus menikmati kemacetan lagi yang lebih parah di jalan Kopo. Semoga jalan tol Soroja (Soreang-Pasir Koja) yang sedang direncanakan bisa dibangun segera, supaya kawasan Bandung dengan segala potensinya bisa tumbuh berkembang.
Berikut beberapa informasi nomor telepon yang mungkin berguna:
Prana Tirta Jln Rancawalini Ciwidey 5927050, Rancabali
Cimanggu Cottage Jln Raya Rancabali Ciwidey
Wisma Palapa Jln Raya Soreang – Ciwidey 5895445
Hotel Lembah Gembyang Tlp 022 5928998
Pondok Selly Jl. Raya Ciwidey Tlp 5928260
Sukarasa Endah Jl Raya Pasir Jambu tlp 022 5928311
Pondok Unyil jl Baru Tunggul tlp 022 5928250
Eco Hotel Jl Baru Tunggul RT 004/01 Tlp 5928082
Sukarasa Indah Hotel Jl. Ciwidey 5928301
Tirta Selly Hotel Jl. Ciwidey Tlp 5928119
Kampung Pa’go Jl Soreang – Ciwidey KM 25
Telp (022) 592 8062
Fax (022) 592 8062
HP : 0812 208 3864
Patuha Resort & Pemandian Cimanggu
Perhutani KPH Bandung Selatan
Jl. Cirebon No. 4 Bandung
Telp 022 – 720 8310
Bpk. Subarno: 081 321 771 810
Bpk. Darmono: 081 320 298 718
Bpk. Oce: 081 841 2812
Rate mulai 50K/malam/orang (kamar sharing)
Hotel Abang Jl. Raya Ciwidey No. 500 Km.2
Telp 022 – 592 8235 – 592 8429
Bpk. Acep: 081 321 607 257
Argapuri Resort Jl. Raya Gambung Km. 6 Pasir Jambu
Telp 022 – 592 8816 – 18, 592 8200
Hotel Sindang Reret Jl. Raya Propinsi Ciwidey Kab. Bandung
Telp 022 – 592 8205

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar